Rabu, 22 Juni 2011

pENENTUAN uSIA pENINGGALAN sEJARAH

SEJARAH INDONESIA MASA PRA’AKSARA
Setelah mempelajari modul ini maka akan dapat;
1. menjelaskan sumber-sumber sejarah dan cara menentukan usia peninggalan sejarah.
2. menjelaskan pembabakan masa pra-aksara berdasarkan geologi.
3. menjelaskan pembabakan masa pra-aksara berdasarkan alat kebudayaaannya.
4. menjelaskan ciri-ciri kehidupan masyarakat masa pra-aksara.
5. menjelaskan corak kehidupan masa pra-aksara.
6. menjelaskan jenis-jenis manusia purba.
Inti Materi
1. Sumber-sumber sejarah dan cara menentukan usia peninggalan sejarah.
2. Pembabakan masa pra-aksara berdasarkan geologi
3. Pembabakan masa pra-aksara berdasarkan alat kebudayaaan
4. Ciri-ciri kehidupan masyarakat masa pra-aksara
5. Corak kehidupan masa pra-aksara.
6. Jenis-jenis manusia purba
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>
Jika pernah melihat film Flinstone maka yang terlintas dalam benak kita adalah kehidupan manusia pada awalnya masih dalam pola yang sangat sederhana, seperti menggunakan alat kehidupan dengan batu. Untuk lebih jelasnya simaklah modul ini!
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>
Sebelum berbicara tentang bagaimana sejarah indonesia zaman pra-aksara, akan lebih baik jika terlebih dahulu membahas tetang sejarah. Apa seh sejarah itu? Karena, melihat kenyataan selama ini banyak sekali teman-teman yang mungkin menganggap sejarah itu tidak terlalu penting. Nah, jika kita pahami dari dasar dapat tampak suatu keunikan dalam sejarah yang tentunya dapat menarik keingintahuan kita untuk mempelajarinya. Belajar sejarah itu sebenarnya asyik, banyak jalan-jalannya, mungkin karena dipengaruhi zaman yang terus berkembang dan IPTEK juga yang semakin berkembang. Jadi, banyak yang menyepelekan kali ya.
What is history???
Kata sejarah sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi mungkin arti kata sejarah yang tepat belum kita ketahui. Untuk itu, supaya lebih jelasnya lagi akan kita bahas makna dari kata sejarah. Kata sejarah berasal dari bahasa Arab “syajarah” (sajaratun) artinya pohon, di Indonesia sejarah sering diidentikan dengan silsilah yaitu daftar keturunan atau asal-usul yang di dalamnya dibuat skema menyerupai pohon yang lengkap dengan cabangnya. Dalam bahasa Inggris sejarah disebut history yang artinya masa yang telah lampau. Sehingga terdapat kesamaan antara kedua pengertian tersebut yaitu sama-sama membahas tentang masa yang telah lampau. Berdasarkan pengertiannya maka ilmu sejarah dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan manusia pada masa lampau. Sedangkan rangkaian peristiwa yang terjadi pada masa lampau dimana manusia belum meengenal tulisan dan menghasilkan berita tertulis disebut dengan zaman pra-aksara.
Jejak-jejak sejarah!!
Jejak-jejak peristiwa sejarah dapat dijadikan sumber sejarah yang digunakan untuk menyusun penulisan sejarah. Sumber-sumber sejarah terdapat beberapa macam, antara lain;
ü Sumber-sumber benda, berupa peninggalan-peninggalan benda yang berhubungan dengan kehidupan manusia pada masa lampau, misalnya bangunan dan alat kehidupan sehari-hari.
ü Sumber-sumber tertulis, berupa hasil tulisan manusia masa lampau, misalnya prasasti, naskah, kitab, dokumen, kaligrafi, suluk,syair dan babad.
ü Sumber lisan (oral history), berupa hasil kesaksian langsung dari orang-orang yang terlibat dalam suatu peristiwa ataupun orang-orang yang menyaksikan peristiwa.
Dalam menentukan usia peninggalan sejarah maka terdapat tiga cara, sebagai berikut;
a. Tipologi
Tipologi adalah cara penentuan umur berdasarkan bentuk (tipe) benda peninggalan. Makin sederhana bentuk benda maka makin tua usia benda tersebut. Namun cara ini efektifitasnya masih diragukan karena benda yang sederhana belum tentu dibuat terlebih dahulu dari benda yang lebih sempurna pembuatannya.
b. Stratigrafi
Stratigrafi adalah suatu cara penentuan umur relative berdasarkan lapisan tanah dimana benda berasal. Makin bawah lapisan tanah maka semakin tua benda yang ditemukan. Namun efektifitas cara ini masih diragukan karena akibat ulah manusia permukaan tanah dapat teraduk. Sehingga hanya ahli geologi saja yang mampu menentukan jenis lapisan tanah.
c. Kimiawi
Cara kimiawi ialah cara penentuan umur berdasarkan kandungan unsur-unsur kimianya. Misalnya, unsur C14 (Carbon 14) atau unsur Argon.
Pembabakan Pra-aksara Berdasarkan Geologi
Menurut geologi dan ilmu falak bumi yang ditempati manusia ini berbentuk bola yang amat panas yang berputar pada porosnya. Berputarnya bola gas raksasa yang amat panas tersebut berlangsung berjuta-juta tahun dan lama kelama-lamaan bagian luar tersebut menjadi padat karena temperature bumi berangsur-angsur menurun dan terbentuklah kulit bumi.
Zaman glacial pada zaman pleistosen yang berganti-ganti mengakibatkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia yang sangat berpengaruh pada ekosistem dunia. Binatang-binatang yang hidup banyak yang berbulu tebal sehingga dapat bertahan hidup seperti gajah purba (Mamouth), sedangkan yang tidak berbulu tebal terpaksa berpindah mencari tempat yang memungkinkan untuk hidup. Pada zaman tersebut terjadi migrasi binatang dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Pada zaman pleistosen temperature bumi berubah-ubah terkadang dinggin atau panas. Pada waktu temperature bumi naik maka permukaan es akan mencair. Akibatnya permukaan air laut naik (interglasial). Sedangkan saat temperature bumi turun permukaan bumi akan menjadi es sehingga terjadilah zaman glacial. Selama masa pleistosen bumi telah mengalami empat kali zaman glacial. Pada zaman glacial, Nusantara terbagi menjadi dua bagian yakni bagian barat menjadi satu dengan Asia ( Dataran Sunda)) dan bagian timur bersatu dengan Australia (Dataran Sahul) .
Zaman Archaekum (Azoikum), berlangsung + 2500 juta tahun
Keadaan bumi masih panas sehingga belum ada kehidupan.
Zaman Paleozoikum, berlangsung + 300 juta tahun
Makhluk hidup mulai ada (hemah dan tumbuhan kerena suhu bumi sudah mendingin . Hewan yang ada adalah hewan yang tidak bertulang belakang, seperti ikan, ganggang, rumputan. Iklim masih berubah-ubah dan curah hujan tinggi.
Zaman Mezozoikum, berlangsung +150 juga tahun .
Reptil mencapai bentuk yang sangat besar (raksasa), misalnya Dinausaurus, Atlantosaurus, Tyrannosaurus.
Zaman Neozoikum atau Kainozoikum, berlangsung sekitar 60juta tahun. Terbagi menjadi dua yaitu;
-Zaman tersier
-Zaman kuarter, masa ini terbagi menjadi dua bagian;
Ø Kala Pleistosin atau Diluvium, berlangsung selama600.000tahun (zaman glacial). Terbagi menjadi; pleistocen,pliosen,milosen,
Oligosen,Eosen, dan paleosen.
Ø Kala Holosin atau Alluvium, berlangsung sejak 20.000 tahun yang lalu.
Sejak masa pleistosen reptile besar punah, kera mulai timbul, binatang menyusui mulai banyak, sejak masa mitosen orang utan mulai ada. Pada masa pleistosen es dari kutub utara mencair hingga menutupi sebagian Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara. Sedangkan pada masa holosin manusia jenis homo sapiens sudah mulai hidup.
Pembabakan Pra-aksara Berdasarkan Alat Kebudayaannya
A. Zaman Batu
Zaman batu menunjuk pada suatu periode di mana alat-alat kehidupan manusia umumnya/dominan terbuat dari batu, walaupun ada juga alat-alat tertentu yang terbuat dari kayu dan tulang. Zaman batu dikenal juga sebagai zaman dimana manusia belum mengenal logam dan alat-alat yang paling utama dikenal pada saat itu yaitu alat-alat yang terbuat dari batu. Namur, tidak dapat sangsikan bahwa pada saat itu juga tela hada pula alat-alat yang terbuat dari kayu atau bambu, akan tetapi bekas dari alat-alat tersebut tak berbekas.
Dari alat-alat peninggalan zaman batu tersebut, melalui Metode Tipologi (cara menentukan umur berdasarkan bentuk atau tipe benda peninggalan), maka zaman batu dibedakan lagi menjadi 3 periode/masa, yaitu:
1. Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)
Zaman Batu Tua/ Palaeolithikum Merupakan suatu masa di mana alat-alat hidup terbuat dari batu kasar dan belum diasah/diupam, sehingga bentuknya masih sederhana. Misalnya seperti kapak genggam
Gambar 1. Kapak Genggam
Tingkat kecerdasan manusia yang hidup pada masa ini masih sangat rendah, sehingga apa saja yang tersedia di alam atau apa saja yang ditemukan akan dipergunakan untuk penunjang kehidupan mereka serta keperluan mereka. Lalu lama-kelamaan terdapat pengalaman bahwa batu adalah bahan utama. Namun, tidak sembarang batu yang dipergunakan, mereka harus mencari dulu batu yang kersan dan kuat. Setelah batu itu didapat, maka tidak dapat langsung di gunakan. Batu tersebut harus dibentuk dulu sesuai dengan bentuk apa yang akan digunakannya. Dengan demikian, maka kepandaian manusia semakin meningkat, segala sesuatu yang baru muncul kemudian mencerdaskan otak mereka, dan kemudian perkembangan akal inilah yang akhirnya memberi kedudukan tertinggi pada manusia di antara semua mahluk ciptaan Tuhan.
Ciri-ciri dari zaman batu tua/ palaeolithikum ini, adalah sebagai berikut:
- pembuatan alat-alat yang digunakan masih sangat kasar, tidak di asah atau di haluskan.
Gambar 2: jenis-jenis peninggalan zaman Palaeolithikum
- Manusia yang hidup pada masa ini belum bertempat tinggal tetap (nomaden) atau hidupnya berpindah-pindah, masih hidup mengembara.
- Masih bersifat food gathering (mencari dan meramu makanan)
- Contoh alat yang digunakan antara lain: kapak genggam, kapak perimbas, dan alat-alat serpih.
2. Zaman Batu Tengah (Mesolithikum)
Merupakan masa peralihan di mana cara pembuatan alat-alat kehidupannya lebih baik dan lebih halus dari zaman batu tua. Contohnya: Pebble/Kapak Sumatera. Alat-alat yang digunakan pada zaman ini masih menyerupai alat-alat palaeolithikum. Manusia pada masa ini sudah mulai bertempat tinggal tetap.
Ciri – cirinya adalah :
- pembuatan alat – alat mulai dihaluskan jika perlu ditajamkam
- Hidup mulai menetap
- Contoh alat yang digunakan pada saat itu , seperti : kapak sumatera ( Pable), alat dari tulang, flake ( alat serpih )
- Mulai mengenal kepercayaan
- Ditemukan Kjokenmoddingger ( sampah dapur ) yaitu kehidupan manusia purba yang berada di tepi pantai dan memakan kerang kemudian kulit kerang tersebut membentuk bukit di belakang rumah panggung mereka ( ditemukan di Sumatera)
- Ditemukannya Abris Sous Roche yaitu kehidupan manusia purba yang mulai menetap di gua – gua
- Mengenal seni dengan ditemukannya lukisan cap tangan pada dinding gua Leang – leang.
Gambar .: alat-alat peninggalan zaman Mesolithikum
Gambar 5. Peta jalur penyebaran kebudayaan Mesolithikum
KUIS ! Kehidupan manusia pada masa mesolithikum, masih belum banyak berubah dan masih dipengaruhi oleh cara-cara hidup masa sebelumnya. Mereka beertempat tinggal di gua-gua atau di bukit kerang tepi sungai/pantai, yang tidak jauh dari sumber air dan padang rumput atau hutan kecil tempat mereka berburu. Pertanyaannya;
1. Mengapa manusia purba hidupnya cenderung berkelompok-kelompok?
2. Mengapa manusia purba cenderung memilih tempat tinggal di dalam gua dan tempat yang dekat dengan sumber air?
3. Zaman Batu Muda/ Neolithikum
Zaman batu muda/ neolithikum merupakan suatu masa di mana alat-alat kehidupan manusia dibuat dari batu yang sudah dihaluskan, serta bentuknya lebih sempurna dari zaman sebelumnya. Selain di asah dan di upam, alat yang dihasilkan kini telah banyak pula yang indah. Kecuali tembikar, pada masa ini manusia juga telah mengenal tenunan. Orang-orangnya sudah bertemapt tinggal menetap dan telah pula mengenal bercocok tanam.
Ciri – cirinya :
- peralatan sudah halus dan diberi tangkai
- contoh benda yang digunakan adalah :kapak persegi dan kapak lonjong
- pakaian terbuat dari kulit kayu
- perhiasan dari manik – manik dan batu
- sudah menetap ( food producing )
- menganut kepercayaan animisme dan dinamisme
- memiliki kemampuan bercocok tanam
Gambar 6: alat-alat peninggalan zaman Neolithikum (Kapak lonjong)
Gambar7.Peninggalan zaman Neolithikum
(kapak persegi)
B. Zaman Logam
Dimulainya zamanlogam bukan berarti berakhirnya zaman batu, karena pada zaman logampun alat-alat dari batu terus berkembang bahkan sampai sekarang. Sesungguhnya nama zaman logam hanyalah untuk menyatakan bahwa pada zaman tersebut alat-alat dari logam telah dikenal dan dipergunakan secara dominan. Zaman logam disebut juga dengan zaman perundagian.
Zaman logam juga merupakan waktu dimana manusia pada saat itu sudah dapat membuat alat-alat dari logam, yang ternyata lebih kuat dan lebih mudah dikerjakan daripada batu. Sebelum digunakan sebagai bahan untuk keperluannya, logam terlebih dulu harus dilebur dulu. Pada zaman logam ini, manusia sudah jauh lebih tinggi kebudayaannya bila dibandingkan dengan zaman batu.
Perkembangan zaman logam di Indonesia berbeda dengan di Eropa, karena zaman logam di Eropa mengalami 3 fase/ bagian, yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi. Sedangkan di Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya tidak mengalami zaman tembaga tetapi langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan. Dan hasil temuan yang lebih dominan adalah alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam disebut juga dengan zaman perunggu.
Ciri dari zaman perunggu, diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø Zaman perunggu, Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Zaman perunggu, hasil budaya yang terbuat dari perunggu antara lain
* nekara: genderangbesar terbuat dari perunggu , untuk upacara
* kapak corong / kapak perunggu / kapak sepatu
* moko : seperti nekara tetapi lebih kecil, digunakan untuk upacara keagamaan
* perhiasan berupa gelang, kalung, cincin dan lainya
Gambar 8. Nekara
Ø Zaman besi, Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500°C. Beberapa hasilnya seperti :
* kapak
* pisau
* perhiasan
* sabit
* mata panah
* cangkul
Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan. Tidak semua manusia memiliki keahlian untuk membuat barang logam (undagi). Tehnik membuat barang dari logam terdiri dari tehnik a cire perdue dan be valve.
tehnik a cire perdue
Benda yang akan dicetak dibuat dari lilin atau sejenisnya kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang.Selanjutnya dibakar sehingga lilin itu meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi dengan cairan perunggu, sesudah dingin cairan membeku dan tanah liat tadi dibuang dan jadilah benda yang diinginkan
be valve
Caranya cetakan logam terbuat dari tanah liat yang diberi rongga dan diberi logam,dan terdiri dua bagian. Cetakan daritanah liat tersebut dibakar seperti membuat gerabah. Cairan perunggu dimasukan kedalam cetakan bivalve tersebut setelah cairan logam dingin dan mengeraskan, cetakan tersebut kemudian dilepas maka jadilah benda yang diinginkan.
Demikianlah uraian materi pembabakan prasejarah berdasarkan arkeologinya. Untuk memudahkan Anda memahami uraian materi di atas, maka simaklah bagan berikut:
Aksi Kamu !#
Kamu membutuhkan;
- Batu manik-manik kecil
- benang nilon
Buatlah simpul pada ujung benang kemudian masukan manik-manik sesuai keinginanmu hingga panjangnya dapat dilingkarkan pada tangan atau lehermu. Setelah selesai ikatkanlah ujung satu dengan lainnya. Hasilnya kamu dapat memakai dan membuat perhiasan seperti apa yang dilakukan oleh manusia pada masa pra-aksara.
◙►Selanjutnya apakah pernah mendengar atau membaca istilah Megalithikum? Megalithikum merupakan suatu istilah kebudayaan batu besar (Mega = besar; Lithos = batu).
C. Zaman Megalithikum
Antara zaman neolithicum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang mengunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam. Kebudayaan Megalithikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolithikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Adapun salah satu contoh budaya Megalithikum dapat Anda lihat pada gambar berikut ini.
Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu :
1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.
2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
Apa yang dinyatakan dalam uraian di atas, dibuktikan dengan adanya penemuan bangunan batu besar seperti kuburan batu pada zaman prasejarah, banyak ditemukan manik-manik, alat-alat perunggu dan besi. Hasil kebudayaan megalithikum biasanya tidak dikerjakan secara halus, tetapi hanya diratakan secara kasar dan terutama hanya untuk mendapatkan bentuk yang diperlukan.
Peninggalan kebudayaan megalithikum ternyata masih dapat dilihat sekarang, karena pada beberapa suku-suku bangsa di Indonesia masih memanfaatkan kebudayaan megalithikum tersebut. Contohnya seperti suku Nias.
Ø Zaman batu besar ( Megalithikum ) hasilnya terbuat dari batu berukuran besar, seperti :
* menhir : tugu batu digunakan untuk menghormati roh nenek moyang
* Punden berundak : terbuat dari batu untuk meletakan sesaji
* dolmen : meja batu yang digunakan untuk meletakan sesaji
* waruga : kubur batu yang berbentuk kubus
* kubur batu : tempat menyimpan mayat
* Sarkofagus : kubur batu yang berbentuk lesung
Menhir
Menhir adalah bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang, sehingga bentuk menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain yaitu seperti punden berundak-undak. Lokasi tempat ditemukannya menhir di Indonesia adalah Pasemah (Sumatera Selatan), Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Untuk mengetahui bentuk-bentuk menhir,
Bangunan menhir yang dibuat oleh masyarakat prasejarah tidak berpedoman kepada satu bentuk saja karena bangunan menhir ditujukan untuk penghormatan terhadap roh nenek moyang. Selain menhir terdapat bangunan yang lain bentuknya, tetapi fungsinya sama yaitu punden berundak-undak
Punden Berudak
Punden berundak-undak adalah bangunan dari batu yang bertingkat-tingkat dan fungsinya sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal. Bangunan tersebut dianggap sebagai bangunan yang suci, dan lokasi tempat penemuannya adalah Lebak Sibedug/Banten Selatan dan Lereng Bukit Hyang di Jawa Timur.
Gambar 9. Punden berundak
Setelah Anda mengamati gambar diatas, apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Pernahkah Anda melihat bangunan yang bentuknya mirip punden berundak-undak.TentuAnda sudah pernah melihat candi Borobudur, baik secara langsung maupun hanya melalui gambar ataupun televisi. Candi Borobudur di Jawa Tengah adalah bangunan pemujaaan untuk umat Budha, dan menurut Prof. Dr. Sutjipto Wirgosuparto, arsitektur bangunan Borobudur merupakan tiruan atau kelanjutan dari punden berundak-undak.
Persamaan antara Borobudur dengan Punden Berundak-undak adalah sama-sama sebagai bangunan suci karena berfungsi untuk tempat pemujaan. Adapun perbedaannya candi Borobudur merupakan bangunan suci umat Budha, dan bentuk bangunannya sempurna dan indah karena penuh dengan relief dan ragam hias. Sedangkan Punden Berundak-undak hanyalah bangunan biasa yang terbuat dari batu yang disusun bertingkat-tingkat tanpa relief ataupun ragam hias dan sebagai tempat memuja arwah nenek moyang yang sudah meninggal.
Dolmen
Dolmen merupakan meja dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu. Dengan demikian dolmen yang berfungsi sebagai tempat menyimpan mayat disebut dengan kuburan batu. Lokasi penemuan dolmen antara lain Cupari Kuningan/Jawa Barat, Bondowoso/Jawa Timur, Merawan, Jember/Jatim, Pasemah/Sumatera, dan Nusa Tenggara Timur.
Untuk mengetahui bentuk Dolmen, dapat diamati dengan gambar berikut!
Gambar10. dolmen
Sarkofagus
Sarkofagus adalah keranda batu atau peti mayat yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup. Dari Sarkofagus yang ditemukan umumnya di dalamnya terdapat mayat dan bekal kubur berupa periuk, kapak persegi, perhiasan dan benda-benda dari perunggu serta besi. Daerah tempat ditemukannya sarkofagus adalah Bali. Menurut masyarakat Bali Sarkofagus memiliki kekuatan magis/gaib. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa sarkofagus dikenal masyarakat Bali sejak zaman logam. Untuk memperjelas pemahaman Anda tentang Sarkofagus, maka amatilah gambar berikut ini.
Gambar11. Sarkofagus
Ciri-ciri Kehidupan Masyarakat Pra-Aksara
Ø Kehidupan Masyarakat Berburu dan Mengumpulkan Makanan.
Gambar12. Ilustrasi kehidupan manusia purba di gua.
Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan masih sangat sederhana dan sangat tergantung pada apa yang tersedia di hutan. Pada masa ini masyarakat tinggal di alam terbuka seperti di hutan, tepi sungai, gunung, goa atau lembah. Di samping itu, lingkungan alam masa itu belum stabil dan masih liar. Binatang buas menjadi penghalang bagi manusia dalam melaksanakan aktivitasnya.
Masyakat masa berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal hidup berkelompok. Jumlah anggota tiap-tiap kelompok antara 10-15 orang. Mereka hidup selalu berpindah-pindah (nomaden). Perpindahannya itu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hubungan antara anggota kelompok sangat erat . Mereka bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain atau serang binatang buas. Meskipun kehidupan masih sangat sederhana namun telah mengenal pembagian tugas. Kaum laki-laki biasanya bertugas untuk berburu dan kaum perempuan bertugas untuk memelihara anak-anak serta mengumpulkan buah-buahan dari hutan. Masing-masing kelompok memiliki pemimpin yang sangat ditaati dan dihormati anggota kelompoknya.
Untuk menunjang kehidupannya manusia mulai membuat alat-alat berburu, alat pemotong, alat pengeruk tanah dan alat lainnya. Para ahli menafsirkan bahwa pembuat alat tersebut dari jenis Pithecanthropus dan kebudayaannya disebut tradisi Paleolithikum (Batu Tua).Alat-alat tersebut banyak ditemukan di Kali Baksoka, daerah Kabupaten Pacitan dan kemudian disebut kebudayaan Pacitan. Penelitian ini dilakukakan oleh G.H.R. von Heckeren, Besuki, dan R.P. Soejono (1953-1954). Penemuan sejenis juga terdapat di daerah Jampang, Kulo (Sukabumi) yang diteliti oleh D. Erdbrinnk, di Gombong, Perigi, dan Tambang Sawah (Bengkulu) diteliti oleh J.H. Houbalt dan lain-lain. Benda-benda hasil antara lain; kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, pahat genggam, alat serpih, dan alat-alatdari tulang.
Ø Kehidupan Masyarakat Beternak dan Bercocok Tanam
Kemampuan manusia berpikir dalam mempertahankan kehidupannya mulai kerkembang. Hal ini mengkibatkan munculnya kelompok-kelompok yang lebih besar serta menetap. Munculnya kehidupan itu berawal dari upaya untuk menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam satu masa tertentu sehingga tidak perlu mengembara lagi. Mereka mulai hidup dengan bercocok tanam. Kemampuan memproduksi makanan (food producing) menjadi dasar mereka untuk hidup menetap. Mereka mulai menanam jenis tanaman yang semula liar untuk memenuhi kebutuhan mereka. Serta mulai menjinakan hewan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka seperti kuda, anjing, kerbau, sapi, dan kambing. Kehidupanbercocok tanam yang dikenal pertama kali adalah berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanaminya. Agar dapat menetap lama akhirnya mereka membuat persawahan.
Masyarakat sudah memiliki tempat tinggal yang tetap dan memilih tempat tinggal pada tempat ertentu yang dapat menjalin hubungan dengan kelompok lain. Hubungan sosial semakin terjalin dan terorganisir dengan rapi serta terdapat gotong royong. Terdapat seorang pemimpin yang disebut kepala suku.
Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan mereka mengadakan pertukaran barang dengan sistem barter. Barter menjadi awal unculnya system ekonomi. Sistem barter tidak hanya dalam lingkungannya tetapi juga di luar lingkungannya. Kehidupan bertambah maju setelah mengenal logam. Kemampuan mengerjakan memperlihatkan semakin tinggi kemampuan massyarakat.
Peninggalan kebudayaan manusia pada masa ini semakin bertambah banyak jumlahnya baik yang terbuat dari tanah liat, batu dan tulang. Hasil-hasil kebudayaan antara lain; beliung persegi, kapak lonjong, mata panah, gerabah, perhiasan dari tanah liat, kalsedon, yasper dan agat. Selain itu pada masa ini terjadi kebudayaan megalitihikum yang menghasilkan antara lain; menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, waruga, dan arca.
Ø Kehidupan Masyarakat Perundagian
Pada masa ini masyarakat telah mengenal teknik-teknik pengolahan logam perunggu dan besi. Pengolahan tersebut memerlukan tempat pengolahan khusus serta keahlian khusus.. Tempat untuk mengolah logam dikenal dengan nama perundagian dan orang yang memiliki keahlian disebut undagi.
Peninggal sejarah masa perundagian menunjukan kekayaan dan keanekaragaman budaya. Berbagai macam bentuk seni upacara. Kemakmumaran masyarakat diketahui melalui perkembangan teknik pertanian dengan mengenal alat pertanian seperti pisau, bajak, cangkul dan lainnya.
Kepercayaan pada masa perundagian di Indonesia beritikan penghormatan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan masyarakat memiliki kedudukan penting yang dibuktikan dengan banyaknya penemuan alat-alat upacara dan bangunan pemujaan. Pengaturan masyarakat didasarkan pada kepercayaan seperti setiap tindakan atau peristiwa penting selalu didahului atau disertai upacara untuk memohon doa pada roh leluhur.
Corak Kehidupan Masyarakat Pra-Aksara
Ø Pola Kebudayaan
Perkembangan kebudayaan berdasarkan tempat munculnya kebudayaan tersebut. Kebudayaan agraris muncul dari aktifitas kehidupan masyarakat di pedalaman. Dalam rangka mengolah alam sekitarnya memalui bercocok tanam dan membuka persawahan. Sehingga mereka memerlukan alat seperti bajak, cangkul, sabit dan lainnya. Sedangkan bagi yang tinggal di pantai, kebudayaan yang muncul adalah kebudayaan maritime. Hasil-hasil kebudayaan seperti jala, pancing, tombak, rakit, sampan, dan lainnya.
Ø Unsur-unsur Kebudayaan
Sistem kepercayaan diperkirakan muncul pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, hal ini dibuktikan dengan dengan penemuan lukisan di Gua Leang-leang. Adanya corak kepercayaan dipekuat dengan penemuan kadal di pulau SeramPapua, ditempat yang sama juga ditemukan lukisan perahu yang menggambarkan kendaraan nenek moyang kea lam baka. Sistem kepecayaan semakin berkembang ketika masa megalithikum, masyarakat memuja roh untuk melindungi mereka. Hal ini tampak dalam bentuk upacara penghormatan, persajian dan penguburan. Selain kepercayaan terhadap roh nenek moyang terdapat kepercayaan terhadap kekuatan alam. Sehingga corak kepercayaannya adalah animisme dan dinamisme.
Jenis-Jenis Manusia Purba
Manusia Purba di Indonesia
Ø Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus berarti manusia besar. Fosil ini ditemukan di Sangiran oleh von Koenigswald pada tahun 1914 berupa rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari Pithecanthropus Erectus. Sehingga para ahli memperkirakan bahwa fosil ini adalah manusia tertua yang pernah hidup di pulau Jawa. Setelah direkostruksikan maka diketahui cirri-cirinya sebagai berikut;
· Memiliki tulang pipi yang tebal.
· Memiliki otot kunyah yang kuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar